Bayangkan berdiri di panggung pameran industri, memamerkan hasil tiga tahun kerja bareng Nintendo. Besok paginya, Nintendo naik ke panggung yang sama di acara yang sama, dan mengumumkan bahwa partner CD mereka sebenarnya perusahaan lain.
Itu bukan skenario fiksi. Itu yang terjadi di Consumer Electronics Show, pertengahan 1991. Pihak Sony, menurut beberapa catatan, tahu soal pembatalan itu bersamaan dengan wartawan di ruangan — dari pengumuman resmi Nintendo sendiri.
Deal 1988 yang Isinya Bikin Nintendo Panik
Kisahnya mulai 1988. Nintendo butuh jawaban buat Sega Mega-CD dan TurboDuo: format CD makin murah, kapasitasnya jauh di atas cartridge. Sony sudah punya pengalaman optik, dan chip suara SNES (SPC700) juga buatan Sony. Kerja sama kelihatannya masuk akal.
Masalahnya ada di isi kontrak. Menurut catatan kontrak yang beredar di komunitas, Sony yang memegang kendali atas format cakram SNES-CD — termasuk wewenang melisensikannya ke perusahaan lain. Buat Nintendo, itu sama saja menyerahkan pintu masuk bisnis mereka: selama ini cartridge dikuasai penuh Nintendo, termasuk urusan lisensi dan royalti pihak ketiga.
Nintendo membaca ulang detail itu telat. Ketika mereka sadar, kesepakatan itu sudah sangat menguntungkan Sony.

Prototipe “Nintendo PlayStation” di pameran. Perhatikan slot cartridge dan tray CD di mesin yang sama. Sumber: Wikimedia Commons (CC BY 2.0, Mats Lindh).
Mesinnya Bukan Sekadar Add-on
Yang dirancang Sony bukan cuma peripheral murah. Play Station (ditulis dengan spasi, logo ditempel di bodi) adalah konsol hybrid: satu slot cartridge buat main game SNES, satu tray CD buat format baru bernama Super Disc.
Ada keanehan teknis di sini. Tray CD-nya tidak bisa jalan sendiri. Buat boot, dia butuh cartridge khusus — “Super Disc System Cartridge” — yang menyumbang sekitar 256 KB RAM tambahan ke sistem. Tanpa cart itu, drive-nya cuma jadi lempeng plastik mahal.
Dan bukti yang bikin pengumuman 1991 itu makin aneh: cartridge boot ROM yang akhirnya di-dump komunitas menyimpan teks header Super Disc boot ROM ver.0.95 ... 1992 ... by Tomomi Abe at SONY. Artinya pekerjaan teknik terus jalan sampai pertengahan 1992 — setahun setelah Nintendo mengumumkan Philips sebagai partner barunya di depan umum.
Jumlah prototipe yang dibuat diperkirakan 200 sampai 300 unit. Yang masih diketahui ada sampai sekarang: dua.
Prototipe Itu Dibeli Seharga 75 Dolar
Satu unit muncul di depan publik tahun 2015, bukan dari arsip perusahaan, tapi dari lot lelang isi gudang. Terry Diebold, seorang teknisi maintenance, membeli satu lot barang dari lelang kebangkrutan Advanta Corporation seharga $75. Isi lotnya: CD musik, plakat, sepasang sepatu, dan sebuah dasi. Konsol itu di dalamnya, lalu disimpan di loteng bertahun-tahun karena keluarganya nggak tahu itu apa.
Kebetulan yang bikin cerita ini makin aneh: Advanta adalah tempat Olaf Olafsson pernah bekerja — mantan CEO Sony Interactive Entertainment. Dari mana unit itu bisa ada di gudang sebuah perusahaan kartu kredit di Pennsylvania, sampai sekarang tetap jadi spekulasi.
Unit itu lalu dititipkan ke Ben Heck, hacker hardware yang dikenal suka membongkar mesin aneh. Pada 2016 dia menemukan slot cartridge-nya masih bisa memainkan game SNES, sementara drive CD-nya hanya berdetak dan menarik tray-nya masuk. Butuh sekitar 18 bulan kerja perbaikan sebelum tray itu benar-benar mau membaca cakram, sekitar Mei 2017.
Harga Naik 4.800 Kali
Maret 2020, unit yang sama masuk lelang Heritage Auctions. Harga ketuk $300.000, dan setelah biaya pembeli totalnya $360.000. Pemenangnya: Greg McLemore, pendiri Pets.com. Pemiliknya sebelumnya sempat mengaku menolak tawaran sampai $1,2 juta dan memilih tetap melelang — angka yang, kalau benar, jadi pilihan yang kurang beruntung.
Ceritanya belum habis di situ. Maret 2025, fotografer Julian Domanski bertemu Ken Kutaragi — pria yang membangun arsitektur PlayStation — dan mencetak foto sebuah prototipe kedua yang masih disimpan pria itu. Di lemari. Unit Kutaragi punya logo PlayStation biru terang dan label tombol Eject/Reset tercetak langsung di tombolnya, bukan di bodi di atas tombol seperti unit yang dilelang 2020. Detail produksi kecil yang mengungkap bahwa unit-unit awal tidak identik.

Ken Kutaragi (2014). Dua puluh tahun setelah drama itu, dia masih menyimpan salah satu prototipe peninggalannya di lemari. Sumber: Wikimedia Commons (CC BY 2.0, Official GDC).
Warisan yang Paling Ironis
Kesepakatan pengganti — Nintendo dan Philips — tetap tidak menghasilkan konsol apa pun. Yang dihasilkan justru empat game berlisensi resmi Nintendo untuk mesin CD-i Philips: Hotel Mario, Link: The Faces of Evil, Zelda: The Wand of Gamelon, dan Zelda’s Adventure. Kalau nama-nama itu terasa familier, itu karena potongan animasinya jadi meme abadi soal kualitas game Nintendo di platform orang lain.

Philips CD-i. Dari seluruh kerja sama ini, inilah yang benar-benar rilis — dan nasibnya juga tidak bagus. Sumber: Wikimedia Commons (public domain, Evan-Amos).
Sementara itu, prototipe yang dibuang Nintendo akhirnya jadi fondasi brand konsol yang bertahan sampai hari ini. Satu keputusan bisnis yang diambil buru-buru di sebuah panggung pameran, dan arah industri game 30 tahun berikutnya ikut bergeser karenanya.