Langsung ke konten
Iqbal Adi
Kembali

Crash 1983: Hari di Mana Konsol Nintendo Nyaris Jadi Milik Atari

Bayangin skenario ini: tahun 1985, lo masuk toko game di Amerika, dan di rak ada konsol baru bermerek Atari. Bukan Atari 2600 — tapi mesin 8-bit modern bikinan Nintendo yang di bawah logo Atari. Nggak mustahil, lho. Kesepakatan itu beneran nyaris ditandatangani.

Juli 1983 adalah bulan yang paling ironis dalam sejarah game. Di Amerika, industri video game lagi ambruk, nilai pasarnya anjlok dari miliaran dolar sampai di bawah US$100 juta dalam dua tahun. Di Jepang, tanggal 15 Juli 1983, Nintendo baru aja meluncurkan Family Computer — konsol yang kelak dikenal sebagai penyelamat industri. Dua peristiwa ini saling terkait lewat sebuah kontrak yang batal di menit-menit terakhir.

Nintendo Famicom generasi awal — konsol yang rilis 15 Juli 1983, pas industri game Amerika lagi ambruk Famicom. Foto: Evan-Amos, domain publik (Wikimedia Commons)

Kerajaan yang runtuh karena keserakahan

Sebelum 1983, Atari adalah raksasa. Warner Communications membelinya US$28 juta di 1976, dan beberapa tahun kemudian Atari dijuluki perusahaan dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah Amerika. Tapi kejatuhannya dimulai dari kesalahan hitung yang kelihatannya sepele.

Maret 1982, Atari merilis port Pac-Man untuk Atari 2600. Di atas kertas itu sukses besar: terjual sekitar 7 juta keping, jadi game terlaris sepanjang masa saat itu. Tapi di baliknya ada angka yang mengerikan: Atari memproduksi 12 juta cartridge, padahal jumlah konsol Atari 2600 yang ada di rumah-rumah Amerika waktu itu cuma sekitar 10 juta unit. 5 juta keping nyangkut di gudang. Itu satu game — dan cara ini diulang ke judul-judul lain.

Puncaknya, E.T. the Extra-Terrestrial. Programmer Howard Scott Warshaw cuma dikasih lima minggu buat bikin gamenya — dari deal lisensi film yang molor. Atari tetap mencetak 5 juta cartridge biar bisa ngejar liburan Natal 1982. Hasilnya? Game yang dianggap salah satu yang terburuk sepanjang masa, dengan jutaan keping balik lagi ke gudang. September 1983, truk-truk Atari mengubur sekitar 700.000 cartridge di tempat pembuangan akhir Alamogordo, New Mexico — mitos yang baru terbukti nyata saat digali tim dokumenter tahun 2014.

Atari 2600 — konsol paling laris sebelum crash, korban overproduksi gila-gilaan Atari 2600. Foto: Evan-Amos, domain publik (Wikimedia Commons)

Atari menutup 1983 dengan kerugian lebih dari US$536 juta. Tapi akar masalahnya bukan cuma E.T.: sejak 1979, empat programmer Atari yang hengkang mendirikan Activision dan memaksa Atari menerima kehadiran penerbit pihak ketiga — setelah itu, siapa pun bisa bikin game 2600 tanpa izin Atari. Ratusan judul sampah banjiri rak, pasar kehilangan kepercayaan total.

Kontrak yang batal gara-gara Donkey Kong

Nah, ini bagian yang jarang diceritain. Pas Nintendo mau ekspansi ke Amerika, presiden Nintendo Hiroshi Yamauchi malah ngambil langkah defensif: daripada jualan sendiri di tengah pasar yang lagi ambruk, lebih baik lisensikan Famicom ke pemain lokal. Calonnya? Atari — perusahaan yang justru lagi sekarat itu.

Juni 1983, Nintendo of America dan Atari nyaris sepakat: Atari dapat hak distribusi Famicom di luar Jepang, dengan nama Atari sendiri. Penandatanganan dijadwalkan di Consumer Electronics Show (CES) musim panas 1983. Tapi di acara itulah segalanya batal — bukan karena harga atau teknis, melainkan gara-gara Donkey Kong.

Atari mengira mereka pegang lisensi eksklusif Donkey Kong untuk komputer rumah. Eh, di CES, Coleco — kompetitor utama Atari — memamerkan Donkey Kong jalan di komputer anyarnya, Coleco Adam. CEO Atari, Ray Kassar, marah besar. Nintendo dianggap main dua kaki. Kontrak batal di menit-menit terakhir.

Padahal kemungkinan besar itu penyelamatan tersembunyi. Kalau deal jadi, Famicom mungkin ikut tenggelam bareng Atari yang ambruk beberapa bulan kemudian. Sebaliknya, Nintendo nekat: mereka jualan sendiri, dan menunggu pasar Amerika pulih. Dua tahun kemudian, Oktober 1985, NES (versi remodel Famicom) diuji coba di New York dengan 15 game dan Super Mario Bros. dibundling di dalamnya. Sisanya sejarah.

NES versi Amerika — peluncuran New York 1985 yang menghidupkan lagi pasar game AS NES. Foto: Evan-Amos, domain publik (Wikimedia Commons)

Warisan crash: kontrol kualitas

Pelajaran terbesar crash 1983 bukan “jangan bikin game jelek”. Pelajaran sesungguhnya: pasar game butuh penjaga gerbang. Sebelum NES, siapa pun bisa nerbitin game buat Atari 2600 — dan itu yang bikin pasar kebanjiran sampah. Nintendo merespons dengan sistem lisensi paling ketat yang pernah ada: tiap publisher harus disetujui, game diaudit, dan dibatasi cuma lima judul per tahun. Kartridenya bahkan dilengkapi chip pengunci (lockout) biar cartridge ilegal nggak bisa jalan.

Model itu kontroversial — dan dianggap kartel oleh sebagian pihak — tapi kerjanya. Orang tua Amerika yang trauma beliin game jelek jadi percaya lagi: kalau ada segel “Nintendo Seal of Quality”, barangnya layak.

Ironi terbesarnya? Sistem yang nyelametin industri game itu lahir dari kekacauan yang diciptakan oleh kebebasan total. Kadang, biar sebuah medium bisa tumbuh, ia butuh aturan yang membatasi — dan butuh perusahaan yang cukup berani buat masuk ke pasar yang lagi runtuh, bawa produk yang nyaris aja jatuh ke tangan pesaingnya yang sekarat.


Foto konsol: Evan-Amos, domain publik via Wikimedia Commons. Angka produksi Pac-Man & E.T., deal Atari-Nintendo, dan detail recall mengacu pada dokumentasi sejarah industri (Wikipedia & liputan kontemporer).


Bagikan tulisan ini:

Tulisan Sebelumnya
RetroPie & Raspberry Pi: Komputer Amal yang Jadi Konsol Retro Favorit Dunia
Tulisan Berikutnya
Anatomi Produk Gagal: Dikubur di Gurun, Ludes US$300 Juta, Dikalahkan Tangan Kosong