Kalau lo ngira produk gagal itu pasti teknologinya jelek, coba tebak: game yang dikubur massal di gurun itu tetap bisa dimainkan sampai sekarang. Konsol yang bikin perusahaannya bangkrut spesifikasinya gila-gilaan buat zamannya. Dan mesin jus US$700 itu beneran ngepress dengan kekuatan 4 ton — cuma, dua tangan manusia bisa ngelakuin hal yang sama secara gratis. Kegagalan paling epik jarang lahir dari barang yang “rusak”. Justru sebaliknya: barangnya jalan, tapi cerita di sekelilingnya keburu ambruk.
E.T. (1982): game yang dikubur hidup-hidup
Kisah ini udah jadi legenda, tapi pantas diulang sebagai titik nol “kegagalan simbolis”. Atari bayar mahal buat lisensi film E.T. besutan Spielberg, lalu kasih Howard Scott Warshaw — programmer yang bikin Yars’ Revenge — waktu cuma lima minggu buat nyiptain gamenya dari nol. Atari tetap mencetak sekitar 5 juta cartridge biar keburu Natal 1982. Hasilnya: jutaan keping balik ke gudang, dan September 1983 truk-truk Atari ngubur sekitar 700.000 cartridge di TPA Alamogordo, New Mexico.
Penggalian cartridge Atari di Alamogordo. Foto: taylorhatmaker, CC BY 2.0 (Wikimedia Commons)
Selama tiga dekade kisah kuburan ini dianggap mitos urban. Baru April 2014 tim dokumenter Atari: Game Over menggali lokasinya dan nemuin ratusan cartridge — dan sebagian masih berfungsi saat dicolokin ke Atari 2600. Sekitar 900 keping yang ditemukan laku dilelang senilai US$108.000. E.T. memang bukan satu-satunya penyebab kehancuran Atari — tapi ia jadi simbol paling awet dari era di mana orang mencetak barang lebih cepat daripada mikir siapa yang mau beli.
Gizmondo (2005): konsol genggam paling gagal sepanjang sejarah
Sekarang cerita yang jarang banget diangkat. Tahun 2005, pasar handheld lagi panas: Nintendo DS dan PSP saling sikut. Datanglah Gizmondo — konsol genggam bikinan perusahaan Swedia-Amerika bernama Tiger Telematics, yang yakin bisa nyelak di antara dua raksasa itu.
Di atas kertas, Gizmondo keren. Layar 2,8 inci, CPU ARM9 400 MHz, GPU buatan Nvidia, plus GPS, GPRS, Bluetooth, dan kamera — fitur yang bahkan belum ada di PSP. Harganya juga “pintar”: £229, atau cuma £129 kalau lo setuju nerima iklan yang dikirim lewat GPRS langsung ke konsol. Subsidi hardware dari pendapatan iklan — logika TV gratis yang dibiayai sponsor.
Gizmondo. Foto: MadDreamChant, domain publik (Wikimedia Commons)
Masalahnya, eksekusinya kayak film kriminal. Konsol rilis di Inggris Maret 2005, tapi debut Amerika molor sampai Oktober — dan begitu mau diluncurkan di sana, perusahaan malah ngumumin versi baru Gizmondo 2, bikin calon pembeli mikir ulang. Uang mengalir deras ke mana-mana: toko flagship di Regent Street London dengan sewa US$334.000 per tahun, sponsor ke MTV dan tim F1 Jordan — yang akhirnya menggugat karena nggak dibayar. Salah satu direkturnya, Stefan Eriksson, bahkan balapan Le Mans 2005 naik Ferrari 360 GTC bersponsor Gizmondo.
Pers Swedia kemudian membongkar masa lalu para eksekutifnya — Eriksson punya rekam jejak kriminal dan terkait sindikat “mafia Uppsala”. Sekitar US$300 juta ludes, Gizmondo Eropa bangkrut Januari 2006 dengan total penjualan di bawah 25.000 unit — majalah GamePro menjulukinya konsol handheld terlaris paling buruk sepanjang sejarah. Klimaksnya pas banget buat film: sebulan kemudian Eriksson menabrakkan Ferrari Enzo di Malibu, sempat ngaku mobilnya dibajak, sampai polisi membuktikan dia sendiri yang nyetir dalam kecepatan tinggi. Dia akhirnya dihukum dan dideportasi ke Swedia.
Juicero (2016): 4 ton tekanan, kalah sama dua tangan
Lompat ke puncak gelembung startup. Juicero didirikan 2013 oleh Doug Evans, pengusaha jus cold-pressed, dengan janji: jus sehat segar di rumah, sepraktis kopi pod. Bedanya, “pod”-nya berupa kantong buah yang harus diperas mesin — dan mesin itu dijual US$699 pas rilis Maret 2016, dengan total pendanaan sekitar US$120 juta dari Google Ventures, Kleiner Perkins, dan Campbell Soup.
Ceritanya dibangun setinggi mungkin: 12 PhD, 50 insinyur, dan 7 food scientist katanya terlibat. Pendirinya mengklaim mesinnya punya tekanan 4 ton — “cukup buat ngangkat dua Tesla”. Tiap kantong jus punya QR code unik dan mesinnya wajib online: kalau kantong kedaluwarsa, mesin mogok nolak ngepress. DRM beneran, cuma buat jus.
Lalu April 2017, dua jurnalis Bloomberg iseng. Mereka remas kantong Juicero pakai tangan kosong — dan jusnya keluar. Malah lebih cepat daripada mesinnya. Mesinnya sedikit lebih tuntas, tapi kerusakan udah telanjur: video itu viral, dan US$400-700 buat alat yang bisa diganti tangan jadi meme sejagat. Harga mesin diturunin ke US$400, lalu US$200, dan September 2017 — cuma lima bulan setelah video Bloomberg — Juicero tutup sambil nawarin refund penuh. Ironisnya, perusahaan sempat menjual lebih dari 1 juta kantong jus: bisnis langganannya jalan, tapi kepercayaan publik ke mesinnya udah hancur.
Pola yang sama
Tiga produk, tiga zaman, satu pola yang berulang. Pertama, teknologinya bukan masalahnya — E.T. jalan, Gizmondo capable, Juicero beneran ngepress 4 ton. Kedua, asumsi pasar meleset — Atari mengira lisensi film blockbuster otomatis laku, Gizmondo mengira iklan cukup biayai hardware, Juicero mengira orang mau bayar mahal buat ganti fungsi dua tangan. Ketiga, kepercayaan dan arus kas hancur dalam sekejap — returns, skandal, atau satu video viral aja cukup.
Kegagalan yang paling diingat sejarah bukan yang paling parah secara teknis, tapi yang paling kelihatan konyol. E.T. jadi simbol overproduksi era 80-an, Gizmondo simbol hype tanpa tata kelola, Juicero simbol over-engineering era startup. Produk yang awet butuh tiga hal sekaligus: teknologi yang nyambung, cerita yang jujur, dan kepercayaan. Hilang satu, dua lainnya nggak nolong — dan biasanya yang hilang duluan adalah cerita yang keburu muluk. Kalau solusimu bisa diganti dua tangan kosong, mungkin emang bukan solusi.