Langsung ke konten
Iqbal Adi
Kembali

Anime Hilang: Ada Versi Doraemon yang Praktis Mustahil Ditonton Hari Ini

Bayangkan waralaba anime paling terkenal di planet ini punya satu versi yang, sampai sekarang, praktis nggak bisa kamu tonton. Bukan karena dilarang otoritas, bukan juga karena disimpan rapat di brankas studio. Versi itu hilang — dalam arti harfiah: nggak ada lagi salinannya.

Ini bukan cerita tentang satu judul sial. Ini soal kenapa ratusan judul lain, dari film bisu 1917 sampai animasi TV tahun 70-an, lenyap bareng medianya.

Kenapa film bisa hilang

Ada tiga mesin penghancur, dan semuanya soal uang, bukan konspirasi.

Satu: tape itu mahal, dan dulu bisa dipakai ulang. Di era TV analog, siaran disimpan di pita magnetik berukuran besar yang mahal. Ketika stasiun butuh pita untuk produksi minggu depan, pilihan termurah adalah menghapus isi pita lama dan memakainya lagi. Praktik ini disebut wiping atau junking, dan terjadi di mana-mana, bukan cuma di Jepang.

Dua: nggak ada kewajiban mengarsipkan. Selama puluhan tahun nggak ada aturan yang memaksa stasiun menyimpan siaran lamanya. Arsip dianggap beban, bukan aset.

Tiga: film fisik itu organik dan membusuk. Reel berbasis nitrat terurai sendiri (dan gampang terbakar), sementara asetat kena vinegar syndrome — baunya seperti cuka, dan begitu mulai nggak bisa dihentikan. Kalau ratusan judul cuma ada di satu-dua cetakan, satu kebocoran atap gudang cukup untuk menghapus sebuah era.

Doraemon yang jadi yatim di waralabanya sendiri

Ambil contoh 1973. Sebelum Doraemon jadi ikon yang kamu kenal, ada adaptasi anime pertama: 26 episode (52 segmen), tayang 1 April sampai 30 September 1973 di jaringan Nippon TV, diproduksi rumah produksi yang namanya sekarang jadi catatan kaki — Nippon TV Doga (juga disebut Nippon TeleMovie Productions).

Serialnya berhenti setelah enam bulan. Cerita populernya bilang ratingnya jeblok; versi yang lebih masuk akal: perusahaan produksinya bermasalah finansial dan presidennya mundur — animasi itu jadi salah satu proyek terakhir sebelum studionya tamat.

Versi 1973 ini memang pernah tayang lagi di dua daerah (Niigata 1974, Okinawa), jadi cetakannya pernah bepergian — tapi master resminya hilang. Yang beredar di komunitas pengarsip sampai hari ini biasanya bukan gambar, melainkan rekaman audio yang dulu diambil penonton lewat tape recorder di rumah; satu-satunya episode yang bisa ditemukan utuh online pun berbentuk audio. Ada cerita master-nya habis di kebakaran studio, ada yang bilang pitanya dihapus dan dipakai ulang — dua-duanya nggak bisa dibuktikan, dan di situ letak masalahnya: begitu bendanya nggak ada, sejarah jadi bahan spekulasi. Termasuk foto cel yang beredar sebagai “bukti” versi 1973 dan belakangan diragukan keasliannya.

Lima tahun kemudian, versi Doraemon yang disutradarai studio Shin-Ei jalan 1.787 episode. Versi yang satu itu jadi “yang pertama” di kepala semua orang.

Ironi serial terpanjang di dunia

Kalau kamu pikir judul populer pasti aman, coba Sazae-san. Tayang sejak 5 Oktober 1969 dan masih jalan sampai sekarang, ia termasuk serial skrip terpanjang dalam sejarah televisi.

Ternyata arsipnya nggak utuh. Saat Fuji TV merilis paket DVD untuk episode-era awal (1969–1977), 21 episode — 63 segmen — terpaksa nggak ikut karena cetakan aslinya sudah hilang atau rusak, menurut pendataan arsip penggemar. Sebagian episode awal yang goib baru muncul lagi lewat tayangan ulang di spesial ulang tahun, sementara klip lamanya di internet rajin diturunkan atas permintaan pemegang hak — jadi distribusi ilegal pun bukan penyelamat.

Serialnya hidup lebih dari setengah abad; awalnya bolong.

Yang ketemu juga bukan dari arsip resmi

Kabar baiknya, ada yang berhasil ditemukan lagi — dan hampir semuanya berasal dari tempat yang paling nggak keren.

Frame dari Katsudō Shashin (sekitar 1907), filmstrip 50 frame yang jadi animasi Jepang tertua yang diketahui

Frame dari Katsudō Shashin (sekitar 1907) — 50 frame, durasi sekitar tiga detik. Foto: Wikimedia Commons, domain publik.

Katsudō Shashin (sekitar 1907) cuma berupa potongan film sepanjang 50 frame, sekitar tiga detik, dan diyakini animasi Jepang tertua yang masih ada. Ia ditemukan bukan di museum, melainkan pada 2005 di Kyoto, di dalam sebuah koleksi film dan proyektor milik seseorang. Julukannya: Matsumoto fragment.

Filmstrip Namakura Gatana (1917) yang ditemukan di pasar barang antik Osaka

Filmstrip Namakura Gatana (1917) — dibeli dari pasar barang antik. Foto: Wikimedia Commons, domain publik.

Lalu Namakura Gatana (1917), salah satu animasi Jepang paling awal, dibeli di sebuah pasar barang antik di Osaka, Juli 2007 oleh Natsuki Matsumoto, dosen Musashino Art University — bareng Urashima Tarō (1918) karya Seitarō Kitayama. Sebelum temuan itu, film Jepang tertua yang diketahui berasal dari 1918. Lucunya, durasi Namakura Gatana dilaporkan berbeda-beda antar sumber: dua menit, ada juga yang menyebut empat. Di era segitu, metadata sering ikut hilang bareng reel-nya.

Skalanya besar. Menurut Donald Richie, lebih dari 90% film Jepang pra-perang lenyap permanen. Database National Film Center cuma menyimpan sekitar 70 judul film Jepang pra-1930, padahal perkiraan produksi dekade 1920-an saja sekitar 7.000 judul. Bukan penyakit Jepang saja: sejarawan arsip David Pierce memperkirakan sekitar 75% film era bisu di dunia sudah nggak ada.

Pola temuan itu konsisten. Di Korea, print asli Robot Taekwon V (1976) lama dikira hilang; yang bertahan cuma salinan tak lengkap dan rusak — sampai Juli 2003 satu duplikat ketemu di gudang Korean Film Council, lalu direstorasi dua tahun dengan anggaran 1 miliar won. Ada juga pilot yang nggak pernah tayang: Yuki’s Sun (1972), disutradarai Hayao Miyazaki, gagal jadi serial, dan baru bisa ditonton publik puluhan tahun setelahnya.

Kenapa game beda nasib

ROM game itu digital: sekali di-dump, salinan ke-1000 identik sempurna dengan yang pertama — makanya emulasi jadi bentuk preservasi yang sulit dihentikan. Film nggak begitu; tiap generasi salinan kehilangan detail, dan medianya bisa rusak sebelum sempat disalin.

Yang menarik, penyelamatnya hampir nggak pernah lembaga resmi. Yang menyelamatkan Katsudō Shashin adalah kotak kolektor di Kyoto. Namakura Gatana, pasar barang antik. Robot Taekwon V, gudang komisi film. Doraemon 1973, kaset audio bekas siaran yang direkam fans di ruang tamu.

Kesimpulan yang agak nggak nyaman: populer belum berarti punya cadangan. Kalau satu-satunya salinan sebuah karya cuma ada di satu ruangan yang nggak pernah diperiksa, popularitasnya nggak menyelamatkan apa-apa.


Bagikan tulisan ini:

Tulisan Sebelumnya
Konsol Gagal Ini Lebih Susah Dibobol dari PS3 — Sampai Akhirnya Dibajak Lewat Aplikasi Email
Tulisan Berikutnya
Zelda 1986: Monster yang Cuma Bisa Dibunuh Pakai Teriakan, dan Game yang Sengaja Bikin Pemainnya Nyasar