Bayangin lo karyawan Microsoft tahun 2000. Lo ditawari gabung proyek konsol game. Nama proyeknya di koridor kantor: Coffin Box, alias kotak peti mati, karena orang-orang takut proyek ini bakal ngubur karier siapa pun yang terlibat.
Ternyata proyek itu jadi Xbox. Tapi jalan ke sana jauh lebih berantakan dari kesan ‘pendatang baru yang langsung sukses’.
Lahir dari rasa takut
Menurut catatan Wikipedia, Xbox lahir karena Bill Gates takut sama PlayStation 2. Sony menjual PS2 sebagai pusat hiburan rumah (CD, DVD, internet) yang suatu hari bisa menggantikan PC. Gates sempat nawarin Microsoft bikin software untuk PS2, ditolak Sony. Microsoft juga pernah coba menjajaki akuisisi Nintendo, ditolak juga.
Akhirnya 1998, empat engineer tim DirectX (Kevin Bachus, Seamus Blackley, Ted Hase, Otto Berkes) mulai ngobrolin konsol berbasis DirectX. Kode proyeknya ‘Midway’, merujuk Pertempuran Midway, tempat Jepang dikalahkan Amerika. Pesannya jelas: target mereka ngalahin Sony.
Duel internal: PC mini vs appliance
Sebelum dapat lampu hijau, proyek ini harus menang adu argumen di dalam Microsoft sendiri. Tim WebTV (didukung eksekutif Craig Mundie) pengin konsol murah berbasis Windows CE dengan chip grafis custom. Tim DirectX ngotot pakai komponen PC standar, termasuk hard disk, karena murah dan gampang di-upgrade tiap tahun.
Pada rapat 5 Mei 1999 dengan Gates, Ed Fries (bos divisi game) membela tim DirectX: hard disk bakal bikin konsol ini beda dari kompetitor dan memudahkan akses online. Gates berpihak ke DirectX. Windows CE gak kompatibel dengan DirectX, jadi game PC susah dipindah.
Xbox original. Foto: Evan-Amos via Wikimedia Commons (domain publik).
Valentine’s Day Massacre
Masalahnya: harga. Awalnya Microsoft berencana menggandeng pabrikan komputer pihak ketiga. Tapi hasil kerja awal menunjukkan Microsoft harus produksi sendiri, jauh lebih mahal. Hal itu yang bikin nama ‘Coffin Box’ nempel.
Puncaknya rapat 14 Februari 2000, yang dijuluki Valentine’s Day Massacre. Gates marah besar soal biaya dan perubahan besar dari proposal awal, apalagi Xbox terlihat memarginalkan Windows. Tapi setelah diingatkan bahwa ini produk untuk melawan Sony, Gates dan Steve Ballmer akhirnya memberi lampu hijau plus anggaran marketing.
Detail kecil yang jarang dibahas
| Fakta | Detail |
|---|---|
| Nama ‘Xbox’ | Singkatan dari ‘DirectX Box’. Marketing gak suka dan menyodorkan ‘11-X’. Di focus test, nama Xbox sengaja ditaruh di daftar untuk buktiin betapa gak populernya, eh malah menang |
| Ethernet | Jadi titik debat. Dial-up dianggap cukup, tim Xbox ngotot Ethernet buat Xbox Live |
| Controller ‘Duke’ | Raksasa karena pemasok Sony, Mitsumi, menolak bikin papan sirkuit lipat-tumpuk seperti DualShock 2 untuk Microsoft |
| Produksi awal | Tingkat gagal sekitar 25% di unit awal, diperbaiki oleh Flextronics di pabrik Guadalajara, Meksiko |
| Peluncuran | Serangan 11 September 2001 menghambat perjalanan tim ke pabrik, jadi unit dikirim lokal tanpa tes di fasilitas Microsoft |
Controller-nya sendiri dapat gelar ‘Blunder of the Year’ dari Game Informer (2001) dan masuk Guinness sebagai controller terbesar. Di Jepang, Microsoft meluncurkan versi lebih kecil, ‘Controller S’, yang akhirnya menggantikan Duke di paket penjualan global pada 2002.
Controller ‘Duke’. Foto: Evan-Amos via Wikimedia Commons (CC0).
Ironi lain: nonton DVD butuh aksesori
Padahal PS2 ditakuti karena bisa memutar DVD, Xbox malah butuh DVD Playback Kit (sensor IR plus remote) untuk nonton film. Controller-nya gak bisa mengendalikan pemutaran DVD.
Putus sama AMD, ribut sama Nvidia
Menurut Seamus Blackley, tepat sebelum reveal Januari 2001 tim memutuskan pindah dari AMD ke CPU Intel, dan AMD belum diberi tahu saat reveal. Lalu pada 2002 Microsoft dan Nvidia masuk arbitrase soal harga chip. Dalam laporan ke SEC, Nvidia menyebut Microsoft meminta diskon US$13 juta. Sengketa itu diselesaikan secara privat pada 6 Februari 2003.
Rugi besar, tapi ‘menang’
Hasil akhirnya: sekitar 24 juta unit terjual (16 juta di Amerika Utara), jauh di bawah PS2. Microsoft rugi lebih dari US$4 miliar karena ongkos produksi jauh di atas harga jual. Di Jepang, Xbox nyaris gak laku karena ukurannya besar dan gamenya terlalu Amerika.
Tapi hard disk bawaan, Ethernet, dan Xbox Live yang dulu diperdebatkan itu jadi fondasi konsol online modern. Halo (hasil akuisisi Bungie Juni 2000) mengubah wajah game FPS di konsol, dan merek Xbox masih hidup sampai sekarang.
Jadi, ‘Coffin Box’ itu memang nyaris jadi peti mati. Bedanya, yang dikubur bukan karier mereka, tapi miliaran dolar Microsoft, sebagai tiket masuk ke pasar yang awalnya bukan miliknya.