Bayangkan kamu punya format video baru. Pabriknya bisa pakai mesin cetak DVD yang sudah ada, cuma perlu sedikit modifikasi. Kepingnya nggak dikunci per region, jadi cakram dari Jepang bisa diputar di Indonesia. Harganya lebih murah, dan kamu masuk pasar tiga bulan lebih dulu.
Itu HD DVD. Lawannya, Blu-ray, butuh lini produksi baru, punya region lock, dan lebih mahal.
Blu-ray menang, dan Toshiba menyerah pada 19 Februari 2008 — kurang dari dua tahun setelah HD DVD dijual ke publik. Perang format terakhir ini nggak diputuskan konsumen atau teknologi — tapi oleh beberapa lembar kontrak dan satu pengumuman dua hari sebelum pameran dagang terbesar dunia.
Dua format, satu laser, beda 0,5 milimeter
Secara fisika keduanya nyaris kembar: laser biru-violet 405 nm, keping 1,2 mm. Bedanya cuma di mana data disimpan.
Blu-ray menaruh lapisan data 0,1 mm dari permukaan. Lensa jadi bisa lebih dekat, numerik aperturnya lebih tinggi (0,85 vs 0,65), dan satu lapis muat 25 GB — dua kali HD DVD yang mentok di 15 GB.
Tapi 0,1 mm itu masalah: data sangat rentan goresan, dan rencana awal Blu-ray adalah caddy pelindung seperti MiniDisc — artinya nggak akan kompatibel dengan slot DVD biasa. Rencana itu batal setelah TDK datang dengan hard-coat yang diklaim 100 kali lebih tahan gesek dari polycarbonate DVD.
HD DVD memilih jalur konservatif: data di kedalaman 0,6 mm, sama seperti DVD. Kapasitas lebih kecil, tapi pabrik bisa pakai lini produksi DVD yang sudah terpasang di seluruh dunia — cukup diubah sedikit, bukan dibangun ulang.
Kotak HD DVD dan Blu-ray. Foto: Jason Curtis / Museum of Obsolete Media, CC BY-SA 4.0.
Perang pertama: siapa yang berhak menentukan standar
HD DVD diajukan Toshiba dan NEC ke DVD Forum, badan penerbit standar DVD. Di sinilah hal yang jarang diceritakan: usulan itu ditolak dua kali oleh anggota forum yang juga duduk di kubu Blu-ray Disc Association. Setelah dua kali kalah voting, pendukung HD DVD menambah tiga anggota baru dan mengubah aturan voting supaya usulan mereka lolos. HD DVD disahkan 2003 — dan cara menang seperti itu menarik perhatian Departemen Kehakiman AS.
Negosiasi damai sempat jalan awal 2005, lalu gagal karena platform interaktif: Blu-ray mau BD-J berbasis Java, DVD Forum mau HDi milik Microsoft. Juni 2005 Sun mengumumkan BD-J menang, dan 22 Agustus 2005 negosiasi resmi berakhir.
Player prototipe Toshiba dan twin disc DVD/HD DVD di IFA 2005. Foto: Andreas Hornig, CC BY-SA 3.0.
Perang kedua: angka di buku besar
Agustus 2007, Paramount dan DreamWorks Animation pindah ke HD DVD eksklusif. Alasan resminya: keunggulan teknis dan biaya produksi lebih murah. Belakangan terungkap mereka menerima insentif dan komitmen marketing gabungan US$150 juta dari Toshiba.
Kubu HD DVD juga sempat meluncurkan serangan balik nekat: Januari 2007 Toshiba mengumumkan keping triple-layer 51 GB, sedikit di atas 50 GB milik Blu-ray. Ketua BDA Frank Simonis menanggapinya dingin — kalau memang tiga lapis, semestinya 45 GB, “tapi tiba-tiba diubah jadi 51 GB demi alasan promosi”.
Lalu, 4 Januari 2008, sehari sebelum CES, Warner Bros. mengumumkan pindah ke Blu-ray eksklusif. Toshiba langsung membatalkan keynote-nya, dan konon segmen HD DVD sepanjang 20 menit di keynote Bill Gates ikut dicabut. Warner disebut menerima bayaran ratusan juta dolar, versi yang paling sering dikutip US$400 juta. Sony dan Warner nggak pernah mengonfirmasi, jadi perlakukan sebagai rumor mahal, bukan fakta akuntansi.
Setelah itu ritel runtuh berantai: Woolworths berhenti jual HD DVD di 820 toko, Best Buy mulai merekomendasikan Blu-ray, Netflix menghentikan stoknya, dan 16 Februari 2008 Walmart ikut berhenti. New York Times menulis obituari parodi, mengutip analis Rob Enderle: “Kalau Walmart bilang HD DVD sudah selesai, anggap itu fakta.”
Rak supermarket, 31 Januari 2008. Label harga bertuliskan “When it’s gone it’s gone.” Foto: Barnards.tar.gz, CC BY-SA 4.0.
Yang sebenarnya membunuh HD DVD
Bukan spek, bukan harga keping. Installed base. PlayStation 3 punya drive Blu-ray sebagai fitur standar, dan sampai Toshiba menyerah sudah terjual sekitar 10,5 juta unit — dibanding total player HD DVD sekitar 1 juta, sudah termasuk add-on untuk Xbox 360.
Sony merugi besar untuk itu: PS3 dijual mulai US$500 sementara biaya produksinya diperkirakan di atas US$800, dengan drive Blu-ray saja sekitar US$125. Kerugian hardware PS3 sampai pertengahan 2008 diakui sekitar US$3,3 miliar. Itu bukan kemenangan produk, itu pembelian pangsa pasar di luar jalur penjualan player.
Pemenangnya juga kalah
Kemenangan Blu-ray nggak langsung jadi bisnis bagus. Setelah HD DVD mati, penjualan standalone player Blu-ray cuma naik 2 persen dari Februari ke Maret 2008. Yang justru tumbuh: upconverting DVD player sekitar US$70, yang bikin DVD lama kelihatan cukup bagus di TV HD — sementara player Blu-ray masih US$300.
Dan keping HD DVD-nya nggak benar-benar mati. Spesifikasi fisiknya jadi basis CBHD, format buatan Tsinghua University yang diumumkan September 2007. Yang membantu pengembangannya antara lain Hisashi Yamada, mantan Chief Technology Fellow Toshiba yang dijuluki “bapak DVD”. Warner ikut merilis judul di CBHD Maret 2009, dan menurut liputan TV Tokyo Agustus 2009, di Cina CBHD sudah sekitar 30 persen dari player yang terjual, Blu-ray 10 persen, DVD masih 60 persen.
Yang bisa dipelajari
Perang format nggak dimenangkan oleh format terbaik. Dia dimainkan di tiga meja — badan standar, studio film, rak ritel — dan yang paling menentukan justru meja kedua dan ketiga. Keping yang lebih murah dan lebih bebas kalah oleh satu konsol yang menjual 10 juta unit dengan drive bawaan.
Pelajaran pahitnya: setelah bertarung tujuh tahun, Blu-ray menguasai format yang sebentar lagi nggak dibutuhkan siapa-siapa. CEO Seagate Bill Watkins sudah bilang itu di tengah perang — pertarungan sebenarnya bukan Blu-ray vs HD DVD, tapi disk vs unduhan, dan di situ “kubu fisik sudah kalah”. Dia benar. Cuma butuh satu dekade untuk semua orang menyadarinya.