Langsung ke konten
Iqbal Adi
Kembali

Hakujaden 1958: Film Warna Pertama Jepang yang Diam-diam Bukan yang Pertama

Ada satu kalimat nekat di monumen depan Stasiun Nerima, Tokyo: “Nerima City, the birthplace of ANIME”. Nerima jadi “tempat lahir anime” karena satu film: Hakujaden, rilis 22 Oktober 1958.

Monumen Hakujaden di depan Stasiun Nerima, Tokyo, bertuliskan "Nerima City, the birthplace of ANIME"

Monumen peringatan Hakujaden di Stasiun Nerima. Foto via Wikimedia Commons, domain publik.

Dua hal aneh langsung kelihatan. Film ini dijual sebagai “animasi berwarna pertama Jepang” — padahal sebelumnya sudah ada film fitur. Dan orang paling berpengaruh dalam sejarah anime sempat jatuh cinta mati-matian sama film ini, lalu belakangan menyebutnya “tipuan”.

Malam salju seorang siswa kelas tiga SMA

Desember 1958. Seorang anak SMA yang harusnya belajar buat ujian masuk universitas masuk ke bioskop kelas tiga di pinggiran kota — bioskop murah yang filmnya sudah lewat masa tayang utama. Film yang dia tonton: Hakujaden. Bertahun-tahun kemudian, di esai 1988, orang itu menulis pengakuan yang bikin dia malu: dia jatuh cinta sama heroine-nya. Namanya Hayao Miyazaki.

“Aku pulang dengan tergopoh-gopoh di tengah salju yang baru mulai turun. Membandingkan situasiku yang menyedihkan dengan kesungguhan karakter-karakter itu, aku malu pada diri sendiri, dan menangis sepanjang malam.”

Dia nonton berkali-kali; Bai-Niang, si ular putih yang berubah jadi perempuan, jadi semacam pacar pengganti buatnya. Efeknya bukan cuma emosional: Miyazaki bilang pertemuan itu bikin dia sadar dia sebenarnya ingin membuat dunia yang tulus.

Puluhan tahun kemudian dia menyebut film itu “tipuan” — terlalu fokus ke tragedi cinta Syusen dan Bai-Niang, sementara karakter lain digambarkan tidak menarik. Dari kekecewaan itulah lahir prinsip kerjanya: tonton animasi yang bagus, lalu bikin sesuatu yang mengalahkannya.

Yang sengaja dilupakan

Kenapa 1958 disebut “pertama”? Karena yang sebelumnya lebih baik dibisukan. Tahun 1945, sutradara Mitsuyo Seo bikin Momotarō: Umi no Shinpei, film 74 menit untuk Shōchiku Dōga Kenkyūjo, dipesan Angkatan Laut Jepang sebagai propaganda perang. Ini film animasi fitur pertama Jepang — dan secara teknis jauh di depan zamannya. Produksinya kacau: satu per satu animatornya dikirim ke medan perang, sampai timnya bolong di tengah jalan.

Adegan dari Momotarō: Umi no Shinpei (1945), film animasi fitur pertama Jepang

Adegan dari Momotarō: Umi no Shinpei (1945), film propaganda yang jadi film fitur animasi pertama Jepang. Via Wikimedia Commons, domain publik.

Setelah perang, film itu diyakini ikut dihancurkan pasukan pendudukan Amerika; cuma satu salinan yang akhirnya muncul lagi. Isinya propaganda kolonial yang bikin tidak nyaman ditonton — jadi wajar kalau Toei memasarkan Hakujaden sebagai “yang pertama”.

Taruhan “Disney dari Timur”

Presiden Toei, Hiroshi Ōkawa, nonton Snow White dan terpukau sama warnanya. Tahun 1956 Toei membeli studio kecil Nichido Eiga, mengubahnya jadi Tōei Dōga, dan membangun studio di Ōizumi — gedung putih ber-AC yang dijuluki “istana berdinding putih” oleh orang-orang saat itu. Targetnya satu: jadi Disney-nya Asia Timur, dengan satu film fitur berkualitas bioskop setiap tahun.

Studio Tōei Animation di Ōizumi, Tokyo, generasi pertama (1957–2015)

Studio Ōizumi generasi pertama (1957–2015), tempat Hakujaden diproduksi. Foto oleh 正和, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

Metodologinya serius: tim riset dikirim ke Amerika, mentor didatangkan ke Jepang, sistem assembly line Disney dipelajari lalu dipraktikkan. Hasilnya produksi efisien — sekaligus sistem yang mengubah animator jadi pekerja pabrik. Pilihan ceritanya pun politis: Ōkawa sengaja mengambil legenda Tiongkok Legenda Ular Putih untuk nada rekonsiliasi dengan tetangga Asia.

Angkanya tidak masuk akal

ItemAngka
Staf terlibatsekitar 60 orang
Key drawing13.590
Total cellebih dari 65.000
Durasi78 menit
Waktu produksiMaret–Oktober 1958 (8 bulan)

Delapan bulan untuk 65 ribu cel; Cannes mencatatnya sebagai proyek “dua tahun”.

Yang lebih gila: key animation karakter utama dikerjakan cuma dua orang. Akira Daikubara pegang hampir semua manusia, terutama adegan tarung; Yasuji Mori pegang Syusen yang lembut dan semua hewan lucu. Semua pengisi suara karakter pun cuma dua aktor. Rintaro juga memulai karier di sini sebagai in-betweener umur 17.

Harga yang dibayar setelahnya

Sistem satu film per tahun punya cacat struktural yang oleh Ōtsuka disebut “single crop problem”: begitu film selesai, animator bergaji nganggur berbulan-bulan. Manajemen menyiasatinya dengan menyewakan mereka untuk subkontrak TV dan merekrut trainee murah.

Hasilnya muncul istilah yang mengerikan: “anime shōkōgun” — sindrom anime, kombinasi kurang gizi dan kelelahan. Banyak staf dirawat inap, termasuk sutradara Taiji Yabushita sendiri saat produksi Saiyūki (1960). Puncaknya 1961: animator mogok, studio membalas dengan lockout berhari-hari. Kesepakatan Desember 1961 memang memulihkan ketertiban, tapi banyak animator berbakat keluar — sebagian ke studio kecil, sebagian ke perusahaan yang sedang dibangun Osamu Tezuka untuk Astro Boy. Krisis tenaga kerja di studio film bioskop itulah yang memasok tenaga untuk era anime TV.

Kalah di pasar yang paling penting

Hakujaden dapat pengakuan di festival film anak Venesia 1959. Di Amerika, nasibnya beda: dirilis 8 Juli 1961 oleh Global Pictures dengan judul Panda and the Magic Serpent, sebulan setelah film Toei lain, Magic Boy. Perubahannya receh tapi bikin bingung: panda merah kecil bernama Mimi diterjemahkan sebagai kucing. Dan ada satu kejanggalan yang selalu lucu: panda dan Bai-Niang tidak pernah muncul dalam satu adegan pun bersama — padahal judulnya menjual panda.

Global Pictures juga menghabiskan biaya promosi paling sedikit untuk film ini dibanding dua film Toei lainnya. Hasilnya: dianggap mengecewakan. Di Jepang filmnya sukses, dan Toei lanjut merilis satu film fitur per tahun; 1959 Shōnen Sarutobi Sasuke bahkan jadi film anime Jepang pertama berformat Cinemascope.

Era bioskop ini tidak bertahan. Satu dekade kemudian Toei Dōga rugi lebih dari 100 juta yen dua tahun berturut-turut (1971–1972), disusul lockout dan PHK 1972. Penonton pindah ke TV, dan model produksi yang lahir dari Hakujaden — lini perakitan, jadwal ketat, tenaga kerja murah — justru yang menyelamatkan industri TV dan jadi standar industri anime sampai sekarang.

Tahun 2019, negatif 35mm-nya dipindai ulang jadi restorasi 4K dan diputar di Cannes Classics. Monumen di Nerima masih berdiri, lengkap dengan klaim “tempat lahir anime” yang secara teknis hanya setengah benar.


Bagikan tulisan ini:

Tulisan Sebelumnya
Zip Drive dan Click of Death: Disk 100MB yang Diam-diam Makan Data Orang
Tulisan Berikutnya
Symbian S60: OS Paling Efisien di Zamannya, Dijegal Sistem Tanda Tangannya Sendiri