Langsung ke konten
Iqbal Adi
Kembali

CRT vs LCD: Kenapa Soal Input Lag Retro Ternyata Gak Sesederhana Angka 'Nol Milidetik'

Lo pernah dengar klaim ini: “CRT itu input lag-nya nol, gak ada yang bisa ngalahin.” Kedengarannya final. Tapi coba cari angka pengukurannya, dan lo bakal nemu hal yang agak berantakan: satu situs ngasih nilai nol milidetik buat Sony PVM-20L5, sementara sumber lain yang ngukur pake alat yang sama justru nunjukin angka LCD yang bervariasi di kisaran puluhan milidetik. Kenapa bisa begitu?

Game Neo-Geo tampil di monitor CRT Sony BVM-A20F1M. Foto oleh Solomon203, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Foto: Neo-Geo boot screen di Sony BVM-A20F1M, Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Kenapa CRT dianggap “instan”

Cara kerja CRT itu sederhana secara konsep. Sinyal video dari konsol langsung dipakai buat ngatur sinar elektron yang nyapu layar baris demi baris. Gak ada buffer frame di tengah. Menurut SpecPicks, LCD dan OLED biasanya nambah minimal satu frame buat scaling dan image processing, sementara CRT langsung nampilin apa yang dia terima.

Di sisi lain, LCD punya grid piksel tetap. Sinyal 240p dari konsol 16-bit harus di-scale dulu ke resolusi native panel. Proses itu makan waktu, dan kualitas scaler nentuin seberapa banyak blur atau judder yang muncul.

Angkanya gak selalu sama

Klaim angka paling sering dikutip datang dari dua sumber yang beda metode:

SumberMetodeKlaim
RetroTechLabAnalisis teoretis (artikel)CRT ~1–3 ms, LCD 60Hz ~8–16 ms
Retro Tech (YouTube)Time Sleuth + Bob dari RetroRGBMonitor LCD yang diuji: rata-rata 60–80 ms, bervariasi
mclassic.com.hk (artikel LCD vs OLED)Klaim dari Time SleuthSony PVM-20L5: 0 ms
mclassic.com.hk (artikel proyektor)Klaim terpisahSony proyektor-nya gak punya angka latency resmi

Nilai nol di baris PVM itu cuma klaim satu situs, tanpa data mentah yang bisa dicek. Dan situs yang sama juga pernah nyatet soal Sony yang gak publish angka, walau konteksnya proyektor. Ini contoh klasik kenapa lo harus cek metodologi sebelum percaya satu angka.

Yang juga layak dicatat: Time Sleuth itu alat ukur yang ngirim sinyal HDMI dan ngukur delay sampai sensor fotodioda-nya mendeteksi perubahan di layar. Jadi dia ngukur chain lengkap, bukan cuma display. Hasil di layar ngikut scaler, setting, dan sumber yang lo kasih, bukan cuma panel.

Yang lebih menarik: gak semua LCD sama

Retro Tech dalam pengujiannya juga nyebut hal yang sering luput: monitor LCD yang mereka pakai cuma nerima analog sampai 480i. Monitor CRT profesional kayak PVM emang didesain buat sinyal analog dari konsol. Jadi perbandingan “CRT vs LCD” sering sebenernya “CRT profesional vs TV konsumen modern dengan scaler dan pengaturan default”.

Di TV modern, ada masalah tambahan: banyak yang ngedeteksi sinyal 240p sebagai 480i, lalu nyoba deinterlace lagi. Engadget nyatet deinterlacing itu salah satu sumber input lag yang bikin game terasa kurang responsif. Mclassic ngasih contoh hipotetis (14 ms di mode Game vs 48 ms di mode default) buat ilustrasi selisih mode, bukan hasil ukur dari satu model tertentu.

Ada juga yang gak ketolong sama angka latency

Lag bukan satu-satunya bedanya. Beberapa efek visual retro ternyata bergantung sama cara CRT nyala:

Shader scanline di scaler modern (kayak OSSC atau RetroTINK) katanya nambah nol milidetik lag. Tapi ini juga klaim dari satu situs. Kalau lo mau yakin, ukur sendiri.

Cara ngukur sendiri pake modal seadanya

Lo gak perlu alat mahal buat ngecek ini. Metode kamera yang dipake banyak komunitas:

  1. Load 240p test suite di konsol atau emulator, buka lag test screen.
  2. Rekam layar dan controller sekaligus pake kamera 240fps atau lebih (HP modern cukup).
  3. Hitung frame antara tombol ditekan dan respon di layar. Tiap frame di 60Hz = 16.7 ms.
  4. Ulangi di CRT referensi, lalu di TV modern dengan mode Game dan mode default. Selisihnya itu kontribusi panel.

Hasilnya lebih valid kalau lo ukur whole chain (controller ke layar), bukan cuma layar doang.

Kesimpulan

“CRT lag-nya nol” itu kebenaran setengah. Secara arsitektur memang gak ada buffer, tapi angka di dunia nyata sangat tergantung sama sumber, kabel, scaler, dan setting. Dan beberapa angka yang beredar gak punya metodologi yang kebuka.

Kalau lo mau main retro di layar modern, cari mode Game atau PC mode, matiin fitur image enhancement, dan kalau bisa, pake scaler dedicated. Itu biasanya ngasih lebih banyak perbaikan daripada ngejar CRT yang susah dicari dan berat.


Bagikan tulisan ini:

Tulisan Sebelumnya
Suara Khas Konsol Retro Itu Sebagian Besar Bug yang Gak Sempat Dibenerin
Tulisan Berikutnya
Kenapa Satu Kaset Super Mario Bros. Laku $3 Juta, Tapi Median NES Cuma Ribuan Dolar?