Langsung ke konten
Iqbal Adi
Kembali

Sel vs Digital: Kenapa Anime 90-an Kelihatan 'Hidup' dan yang 2000-an Lebih Datar

Coba bandingin satu frame anime tahun 1995 sama satu frame tahun 2005. Yang lama warnanya kayak ada “dagingnya”, garisnya kadang nggak 100% konsisten, dan ada butiran film yang bikin gambar terasa bernafas. Yang baru lebih bersih, lebih tajam, tapi banyak orang bilang “datar”.

Biasanya ini ditutup dengan alasan “efek nostalgia”. Padahal ada penjelasan fisik yang cukup spesifik — dan pemicu perubahannya bukan selera seni. Pabriknya yang tutup.

Sel Itu Bukan Sekadar Lembar Gambar

Sel (dari kata celluloid) adalah lembaran plastik transparan. Awalnya dari seluloid, tapi karena bahannya gampang terbakar sendiri, sejak 1950-an industri pindah ke asetat.

Yang menarik adalah cara kerjanya. Garis gambar dicetak atau digambar di sisi depan lembar transparan, sementara warnanya dicat di sisi belakang. Kenapa dibalik? Supaya sapuan kuas nggak kelihatan. Hasilnya blok warna yang rata dan bersih — bukan karena senimannya “males bikin gradasi”, tapi karena materialnya memang memaksa begitu.

Karakter di atas sel ditumpuk di atas background yang dilukis (gouache atau akrilik), lalu difoto frame-per-frame pakai kamera animasi khusus bernama rostrum camera. Satu adegan bisa jadi tumpukan beberapa lembar sel sekaligus.

Pelukis cel mengoleskan cat akrilik di sisi belakang lembar sel yang sudah bergaris — karena dibalik, sapuan kuasnya nggak pernah kelihatan dari depan

Skalanya gila. Menurut catatan Animation Magazine, satu film animasi fitur bisa butuh lebih dari 100.000 sel yang dicat tangan. Itu baru satu film.

Animation stand / kamera rostrum — tumpukan sel difoto satu frame demi satu, dan di sinilah efek cahaya tembus dikerjakan secara fisik

Kenapa yang Lama Terasa Lebih “Hidup”

Beberapa detail teknis yang jarang disadari:

Ditambah film grain dan gate weave dari proses pemotretan film seluloid, hasilnya gambar yang terasa “bernafas”. Kombinasi inilah yang orang rasain sebagai the 90s look.

Ternyata Pemicunya Rantai Pasok

Kalau ditanya kenapa pindah, jawaban umumnya “karena komputer makin murah”. Itu benar, tapi bukan cerita lengkap.

Menurut catatan sejarah industri anime (antara lain esai kritikus 氷川竜介 / Ryusuke Hikawa), ada dua pemicu yang lebih keras: produsen menghentikan produksi lembaran sel untuk animasi, dan cat khusus animasi (アニメカラー) makin sulit didapat. Artinya industri bukan cuma tergoda digital karena lebih bagus — sebagian didorong karena bahan bakunya habis.

Timeline transisinya cukup rapat:

TahunKejadian
1985Toei + IBM simulasikan digitalisasi satu TV series. Biayanya 38 juta yen per episode, cuma buat hardware & software. Batal.
1993Toei mulai pakai tool animasi buatan Celsys.
1996Toei adopsi RETAS! Pro dan hemat sekitar 20% biaya. Tahun yang sama GONZO mengklaim LUNAR: Silver Star Story sebagai anime full digital paint pertama di Jepang.
1997April: GeGeGe no Kitaro season 4 (mulai episode 64) dan Hikarian mulai digital paint.
2002Dalam 5 tahun sejak 1997, sel praktis hilang dari produksi TV anime.

Software-nya sendiri layak disebut. RETAS (dari Celsys, rilis September 1993) dipecah jadi empat modul: Stylos buat menggambar, TraceMan buat scan dan vektorisasi garis, PaintMan buat mewarnai, dan CoreRETAS buat menyusun serta merender — proses yang meniru cara kamera sel asli, lengkap dengan efek multiplane. Tool ini jadi standar de facto industri Jepang dan penerusnya jadi Clip Studio Paint.

Barisan pekerja di departemen ink and paint — pekerjaan pewarnaan yang dulu dikerjakan borongan, sering oleh ibu-ibu di rumah, dan hasilnya dikirim bolak-balik lewat pos atau kurir motor

Yang Hilang, dan yang Datang

Digital bukan cuma soal “pindah alat”. Salah satu keuntungan praktisnya yang jarang dibahas: pengiriman. Dulu, sel yang sudah digambar dikirim ke tukang finishing yang sering di luar studio, lewat pos — lama. Baru tahun 1980-an muncul jasa kurir motor yang bikin bisa sehari selesai. Kalau dikirim ke luar negeri, tambah lambat lagi. Digital bikin semuanya instan.

Yang hilang jelas: tekstur cat tangan, garis warna, kehangatan gambar. Yang datang: layer bisa digeser dalam ruang 3D, gradasi, integrasi 3D CG, kompositing efek — semua hal yang sulit atau mustahil dikerjakan secara fisik.

Dan soal sel-sel lama: benda itu sebenarnya nggak dirancang buat awet. Prinsipnya cuma “bertahan sampai selesai syuting”. Sel mudah rusak karena sinar UV dan hidrolisis, makanya sekarang sel original jadi barang kolektor mahal, dan bermunculan versi cetak digital pakai tinta tahan cahaya khusus buat dipajang.

Penutup

Jadi kalau lo ngerasa anime lama punya “feel” yang nggak bisa ditiru, itu beneran ada. Bukan cuma filter nostalgia, tapi jejak cara kerja: cat di sisi belakang lembar plastik, dicampur tangan, difoto satu per satu.

Yang berubah di tahun 2000-an bukan cuma teknik menggambarnya. Yang berubah adalah seluruh rantai pasok yang bikin teknik itu bisa jalan.


Bagikan tulisan ini:

Tulisan Sebelumnya
AI Pac-Man Cuma Berbekal Satu Petak Tujuan, dan Itu Cukup Bikin Kita Kalah 40 Tahun
Tulisan Berikutnya
Shenmue: Game Termahal Sepanjang Masa yang Rencananya Baru Tergarap Sebelas Persen