Langsung ke konten
Iqbal Adi
Kembali

Kenapa Satu Volume Blu-ray Anime Seharga Ratusan Ribu, dan Kenapa Kuil Sepi Jadi Ramai

Bayangin lo beli satu volume Blu-ray anime isi 2-3 episode dengan harga yang setara satu game AAA. Terdengar gila, kan? Tapi di Jepang itu normal, dan justru harga gila itulah yang selama bertahun-tahun menopang produksi banyak anime. Di sisi lain, ada kuil Shinto berumur ratusan tahun yang tiba-tiba kebanjiran fans yang menulis hal-hal aneh di papan doa. Dua-duanya adalah cara anime menghasilkan uang, dan keduanya jauh dari kesan ‘nonton doang’.

Disc mahal itu bukan salah ketik

Anime News Network pernah membedah ekonominya (seri The Anime Economy). Akarnya ada di era kaset video: harga kaset di Amerika saja bisa $89.95, awalnya dipatok untuk toko rental. Ternyata para otaku ikut beli di harga segitu. Percobaan menurunkan harga cuma menaikkan penjualan sedikit, tidak cukup menutup pendapatan yang hilang. Jadi harga tinggi bertahan.

Alasan lain: rumah di Jepang relatif kecil dan padat, jadi kebanyakan orang memilih menyewa, bukan menimbun koleksi. Yang beli disc hanya penggemar berat. Media jadi pasar khusus, bukan pasar massal.

Hasilnya menarik: ketika toko-toko berhenti memborong semua rilisan baru, para otaku tetap membeli. Beberapa ribu orang itu akhirnya menopang hampir seluruh anggaran sebuah serial.

Ke mana uangnya pergi?

Menurut hitungan ANN, alurnya kira-kira begini:

TahapKeterangan
Harga eceranToko beli dengan diskon, selisihnya margin toko
FulfillmentGudang dan pengiriman, sekitar 5% dari harga grosir
RoyaltiSutradara, penulis series composition, dan pencipta asli masing-masing 1,7% dari pendapatan bersih
Royalti laguSekitar 1,7% untuk penyanyi OP/ED (kalau lagunya bukan dibuat khusus)
Produksi discSekitar $1 per disc, dicetak per blok sekitar 1.000
SisanyaBalik ke production committee

Dalam contoh ANN, sekitar 46% dari harga itu berakhir di tangan production committee, konsorsium perusahaan yang mendanai serial. ANN sendiri menekankan ini contoh kasar, angka aslinya sangat bervariasi tergantung anggaran dan pemasukan lain seperti lisensi mainan. Kesimpulannya tetap: dengan harga setinggi itu, beberapa ribu keping per volume sudah bisa mendekati balik modal untuk satu serial. Tiap pembeli jadi penting banget, dan itu sebabnya produsen Jepang parno banget terhadap impor disc murah dari luar negeri.

Catatan: ini berlaku terutama untuk anime late-night. Anime anak jam tayang sore lebih banyak berfungsi menjual mainan dan game, dan hitungannya jauh lebih rumit.

Lalu datang uang dari luar negeri

Laporan Association of Japanese Animations (AJA) yang diberitakan Variety dan Deadline pada Oktober 2025 menunjukkan pergeseran besar: pendapatan luar negeri sekitar JPY 2,17 triliun (56% dari total), melampaui pasar domestik yang sekitar JPY 1,67 triliun. Artinya model ‘beberapa ribu otaku Jepang’ kini bukan satu-satunya sumber napas industri.

Monetisasi paling unik: ziarah ke lokasi

Sekarang bagian yang paling lucu. Fans anime punya kebiasaan bernama seichi junrei (聖地巡礼), ‘ziarah ke tempat suci’, yaitu mengunjungi lokasi nyata yang jadi latar anime. Istilah ‘seichi’ dipakai untuk membedakannya dari ziarah keagamaan sungguhan.

Mural karakter Lucky Star di Washinomiya, Saitama Mural karakter Lucky Star di Washinomiya, Saitama. Foto: Saph, CC0, via Wikimedia Commons.

Akar fenomena ini jauh lebih tua dari yang orang kira. Wikipedia mencatat wisata lokasi anime pertama terjadi pada atau sebelum 1974, lewat Heidi, Girl of the Alps yang membuat orang mengunjungi Maienfeld di Swiss. Tapi titik ledak internet-nya adalah Lucky Star (2007) dan Washinomiya Shrine di Saitama.

Urutannya menarik: majalah Newtype edisi Juli 2007 memuat artikel lokasi-lokasi di Lucky Star, lengkap dengan petunjuk rute dari Akihabara. Tak lama kemudian kuil itu penuh fotografer yang menirukan adegan anime, cosplayer, dan papan doa (ema) bergambar anime, sebagian bertuliskan doa yang absurd.

Papan doa ema di Washinomiya Shrine Papan doa (ema) di Washinomiya Shrine. Foto: Peter Schlömer, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons.

Reaksi warga terbelah. Kepala kuil sempat khawatir pengunjung menyembah ‘dewa’ selain dewa kuil itu sendiri, sebagian warga cemas soal keamanan, tapi banyak yang akhirnya menerima dan ikut untung. Uniknya, hubungan itu berkembang jadi simbiosis: pada September 2008, fans bersama warga membuat mikoshi (tandu festival) bertema Lucky Star, dan sampai kini tiap tahun fans ikut memikulnya di festival Hajisai.

Angka-angka yang bikin pemda melek

Insight-nya

Dua model ini kelihatan bertolak belakang: satu menjual disc mahal ke segelintir orang, satunya menarik jutaan wisatawan ke daerah. Tapi keduanya bersandar pada hal yang sama, yaitu fans yang bersedia membayar untuk terasa dekat dengan dunia cerita. Disc memberi kepemilikan, ziarah memberi kehadiran. Dan menariknya, lokasi yang jadi ‘suci’ itu tidak diubah sama sekali, hanya diberi cerita.


Bagikan tulisan ini:

Tulisan Sebelumnya
56 Judul Anime di TV Indonesia, Lalu Tinggal 8: Yang Mati Ternyata Bukan Animasinya
Tulisan Berikutnya
Kenapa Emulator Butuh BIOS (dan Kenapa Sony Kalah di Pengadilan)